Pagi tadi saya dapat cerita dari seorang tetangga saya, kalau suami tetangga kami yg sebelah rumahnya pekerjaan nya adalah pelaut yang sering membawa limbah dari negara singapura ke batam. jadi dia akan berangkat berlayar jika ada permintaan pengangkatan limbah dari negara tetangga ini. Mulutku rapat tak berkomentar, hatiku bergejolak… Seminggu yang lalu lewat rumpi ibu-ibu kudengar sebuah berita juga kalau banyak perempuan-perempuan batam yang suaminya bekerja di singapura, bingung dengan kebijaksanaan pengenaan fiskal jika akan berangkat ke singapura. dan sempat ribut akan membuat npwp karena jika ada npwp maka tidak akan dikenakan fiskal. Lumayan jika harus kena fiskal sebesar 500 ribu. Meskipun saat ini dolar tengah naik, raupan gaji yg diterima perempuan-perempuan batam yang bersuamikan laki-laki singapura atau yg suaminya pekerja di singapura. Bisa saja hampir setengah penduduk batam, berisi penduduk yang mempunyai status seperti ini. Rasa nasionalisme saya cukup tergelitik, apa memang sudah tidak ada rasa kebanggaan menjadi penduduk indonesia ? melihat sudah banyak sekali negri ini dijahili bukan oleh orang lain (neg lain) melainkan dari penduduknya sendiri, demi kemapanan ekonomi. Tidak disadari oleh perempuan-perempuan batamĀ yang doyan ngerumpi ini, pada saat negara membutuhkan dana pembangunan dari pajak rakyatnya, mereka malah memaki-maki kebijaksaan tersebut tidak melindungi rakyat, padahal banyak unsur yg jelas ilegal yg ditimbulkan oleh sebagian perempuan-perempuan batam dengan status mereka tersebut. Wahai perempuan-perempuan batam bagaimana negri ini akan memberi perlindungan kepada engkau…?