Kenapa aku harus malu
aku tidak hidup jadi benalu
kenapa aku harus malu
negriku disebut negri korupsi nomor satu
pulak kenapa aku yang harus malu
bukannya pejabat yang korup beserta anak cucu
serta jaksa yang cuma bisa melucu
dalam pengadilan menunggu ketuk palu
alamak memang sangat lucu
tangkap satu tumbuh seribu
badut korup dibalik kelambu
waktu kampanye jelang pemilu
kenapa aku yang jadi malu
demokrasi berselimut bumbu
Aihh Indonesiaku
tak [...]
Arsip untuk Juli, 2008
Kenapa harus Malu.. ?
Diposkan dalam puisi, Label demokrasi, indonesia, korupsi, lucu, malu, negriku, Pemilu, puisi pada Juli 18, 2008 | Leave a Comment »
Nelayan Tua
Diposkan dalam balada, Label puisi pada Juli 17, 2008 | Leave a Comment »
Seorang nelayan Tua duduk di tepi pantai
sambil matanya memandang lautan landai
pikirannya seakan menerawang
bibirnya mengucap berbilang
“apa yang akan kumakan nanti siang
kalaulah mendung tak lagi hilang
dirumah hanya ada nasi
bersama sepiring sambal terasi
kalau kududuk mencangkung begini
makan apalah anak istriku nanti
biarlah badai lautan kuterjang
biarlah kugapai pulau seberang
asal kan ku dapat ikan sembilang
yang tiada terbilang..
Hari Ini
Diposkan dalam balada, Label puisi pada Juli 17, 2008 | Leave a Comment »
Hari ini
kedukaan hilang perlahan
kesukaan datang berkawan
mengepakkan sayap hendak terbang
meraih cinta dan cita yang semakin terbayang
walau bertumpuk usia
namun bakti tetap terbina
Bunda
tawamu adalah tawa kami
sukamu adalah suka kami
dan semangatmu adalah semangat kami
Kembara
Diposkan dalam balada, Label puisi pada Juli 17, 2008 | Leave a Comment »
Kembara
Hilang putus tak pernah bersua
Datang dan pergi tiada berjumpa
bila hujan beranjak pergi
pupus jejakmu tiada kumengerti
Kasih dan Kembaraku
tanpa pernah kutau..
kau sudah begitu jauh..
menjalani sisa-sisa kehidupan
menjajaki setiap penantian
Penantian sepotong luka yang terkoyak
penantian sebait kata yang telah usang
kembara
kau bawa kemana cintaku…
Demokrasi Terlambat Datang (Pemilu 2009)
Diposkan dalam puisi, Label demokrasi, puisi pada Juli 11, 2008 | 2 Komentar »
Apakah pantas memberi nasihat
kalau nasihat tak pernah dibuat
walaupun pantas memberi nasihat
jika tak berilmu tak mendatangkan manfaat
fajar tlah lewat mentaripun kan terbenam
sungguhpun umur terlewat suram
hanya bekal amal beserta asam garam
pupuk harapan tutup masa silam
dalam dada lalu kusemat
sepotong cita-cita dan seuntai semangat
jadikan hidup pemegang amanat
demi nasib ribuan umat
Allahuakbar…
Senyuman manis lina
Diposkan dalam air mata, Label cerpen, hidup pada Juli 10, 2008 | Leave a Comment »
Lina berlari-lari kecil masuk kedalam rumah, dan langsung menangis tersedu-sedu, ibu yang sedang membersihkan tempat cuci piring menjadi terkejut, ada apa nak.. kata ibu sambil buru-buru mencuci tangan dan melap tangannya dengan lap. tangisan lina bukannya reda malah tambah kencang. Ibu langsung memeluk lina sambil memeriksa seluruh tubuh lina, jika ada goresan atau luka mungkin [...]
Duka
Diposkan dalam balada, Label puisi pada Juli 2, 2008 | Leave a Comment »
Duka berada di pihakku..
kau menang
waktu benci datang
menikam mencabik tubuh
aku hilang rasa
semua aku tak punya
Suka berada di pihakmu
waktu rindu datang
menyentuh merasa jiwa
engkau hilang rasa
lalu kau punya semua
SQ 87
Sketsa-sketsa Lukisan
Diposkan dalam balada, Label puisi pada Juli 2, 2008 | Leave a Comment »
Lalu sebuah coretan
hadir dibenak
memaksa tangan
menghadirkan sketsa
semua hadir merangkum jadi satu
tercipta mimpi didalam kanvas
sebuah wajah
miskin warna miskin berita
yang tampak hanya hitam
keagungan yang dalam milikmu
tercermin seluruhnya
selintas musim
kanvas koyak dimakan usia
sketsa-sketsa hilang tak terasa
seperti kenangan yang tersisa
SQ 87
Episode Rindu
Diposkan dalam balada, Label puisi, rindu pada Juli 2, 2008 | 1 Komentar »
Pulang Anakku
Bunda sudah rindu padamu
sudah bunda sedu
air teh manis untukmu
bunda tak benci padamu
pun tak marah padamu
pulang anakku
langit sudah semakin biru
mendung sudah berlalu
Pagi ini anakku
cerita bunda masih kelu
sebab tak ada kabar darimu
namun bunda rindu
rindu akan wajahmu
rindu akan ceriamu
kemanakah anakku
rindu bunda mesti berlabuh ?
SQ 87