Feeds:
Tulisan
Komentar

rujuk

seingat aku…tahun kemarin engkau sempat tak mau bertemu

seumpama kupu kupu ..tak ada warna disini..

hingga putus asa mencari serbuk

mungkin belum seputus itu harapan untuk mu kembali

pada apa yg namanya cita cita

tak mungkin..

sepertinya masih ada benang keraguan .

ini tentang apa ?

Hari ini tentang aku ..besok tentang kamu

dimanakah kita akan bertemu ?

didinding ramadhan kah ?

selalu setuju dan seia dalam keragaman kata kata

selalu menunggu dan setia dalam keberagaman rasa dan cinta

ini tentang siapa ? tentang aku yg lugu

atau tentang kamu yg selalu meragu

jemu menunggu

dimana kita akan bertemu ?
aku sudah jemu menunggu
dimana aku akan menunggumu
rinduku tak kuasa dan aku …
jemu…!!

bu-mus

Seminar Sehari “Pendidik Hebat Semangat Hebat” Bersama ibu Muslimah “Laskar Pelangi”

Hari : Sabtu

Tanggal : 21 februari 2009

Pukul : 08.30 – 14.00 WIB

Tempat : Hotel PIH (Pusat Informasi Haji) Batam Centre

Investasi : Rp. 100.000

Informasi dan Tempat pendaftaran :

* TKIT Anak Harapan Telp : 0778-327717
* Ibu Rini Susilawati. Hp : 0852-64374463

* Ibu Dewi Martika. Hp : 0813-720493328

Penyelenggara :

* TKIT Anak Harapan
* Yayasan Ulil Albab Batam
* JSIT Indonesia

Tahun 1293, Majapahit menguasai Bangka dan Belitung maka nama Belitung
tertulis dalam Syair Nagara Kartagama tahun 1365, ditulis oleh Mpu Prapanca. Pada tahun 1413 kedatangan Laksamana Cheng Ho dari China menyebutkan Belitung dalam catatan perjalanannya. Tahun 1436, Fei Hsin ahli sejarah China juga mencatat tentang Belitung.

Pada masa Majapahit, Belitung dipimpin oleh seorang panglima kerajaan yang disebut Rangga Yuda oleh penduduk disebut Rangga Uda atau Ronggo Udo berkuasa di Badau. Raja ini memerintah sampai beberapa generasi dan tiap generasi rajanya tetap saja bergelar dengan sebutan Rangga Uda atau Ronggo Udo sampai turunan ke tiga atau raja terakhir tak memiliki keturunan laki-laki sebagai pewaris. Pada masa ini penduduknya masih memeluk Hindu dan

menyembah berhala. Nampaknya riwayat “raja berekor” yang sekarang jadi
legenda hidup di zaman ini.

Masa pemerintahan Rangga Yuda atau Ronggo Udo, dikenal ada empat wilayah kekuasaan antara lain, wilayah Badau disebut Tanah Yuda atau Singa Yuda yang berarti negeri panglima atau tempat pemerintahan raja, wilayah Buding disebut Istana Yuda yang berarti tempat pesanggrahan raja, wilayah Sijuk disebut Wangsa Yuda atau Krama Yuda yang berarti tempat keluarga serta abdi raja. dan terakhir adalah Sura Yuda yang berarti tempat suci raja atau daerah yang dikeramatkan.

Tahun 1520, mundurnya kerajaan Majapahit yang seiring dengan masuknya Islam di Jawa, Belitung pun kedatangan seorang ulama dari Gresik, yaitu Datuk Mayang Gresik, menandai masuknya Agama Islam pertama di Belitung, beliau masuk dari sungai Brang dan berdiam di Pelulusan kemudian berhasil menarik banyak pengikut hingga beliau mengusai tahta kerajaan Badau dari tangan raja Ronggo Udo yang terakhir. Setelah Datuk Mayang Gresik menduduki tahta, beliau juga diberi gelar Ronggo Udo, namun karena Beliau Islam maka disebut Kiai Ronggo Udo atau Ki Ronggo Udo. Setelah menguasai Badau beliau tetap berkedudukan di Pelulusan.

Kepercayaan dan agama penduduk terpecah menjadi dua, yang beragama Islam menjadi kukuh di Pelulusan sedangkan sebagian pemeluk Hindu tetap bertahan di Badau dan sekitarnya juga di tiga wilayah Yuda lainnya.

Tahun 1590-an, Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik bersama pengikutnya yang sudah Islam, memindahkan pusat pemerintahan ke hulu tepi sungai Balok atau wilayah Dendang dengan alasan lebih memudahkan pelayaran ke Jawa karena teluk Balok menghadap langsung ke laut Jawa. Perpindahan pusat pemerintahan ini memunculkan ketidak-senangan dari penduduk lama yang tetap mau bertahan di Badau terhadap penduduk yang ikut dengan raja mereka hingga muncul
“Persumpahan Perenggu” dan sumpah itu mengutuk pernikahan antara turunan orang Badau dengan orang Dendang yang menjadi pengikut Ki RonggoUdo atau Datuk Mayang Gresik. Kepercayaan terhadap sumpah itu berlangsung hingga beberapa abad.

Sekitar tahun 1600, masuklah seorang bangsawan dari Mataram, Kiai Masud atau Kiahi Gegedeh Yakob alias Ki Gede Yakob. Ki Gede Yakob adalah putra Pangeran Kaap seorang mangkub atau bendahara. Ki Gede Yakob juga adalah ponakan Ki Gede Pamanahan. Sebagai seorang ulama Ki Gede Yakob diterima baik oleh raja Balok Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik karena misi dari ulama Gresik ini belumlah maksimal mengIslamkan penduduk Belitung apalagi praktek perdukunan dan mistik masih begitu kental merasuki penduduknya.

Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik tak memiliki putra mahkota hingga ketika putri tunggalnya Nyi Ayu Kusuma menikah dengan Ki Gede Yakob Tahta kerajaan Balok diserahkan Ki Ronggo Udo kepada Ki Gede Yakob. Penyerahan kekuasaan ini bukan semata karena Ki Ronggo Udo tidak memiliki putra mahkota tapi Ki Gede Yakob adalah putra keluarga Negara Mataram yang hampir menguasai seluruh pulau Jawa kecuali Banten, Cirebon, dan Batavia.

Tahun 1618-1661, Depati Cakraninggrat I Ki Gede Yakob. Penyerahan kekuasaan dari Ki Ronggo Udo kepada mantunya Ki Gede Yakob lagi-lagi menimbulkan ketidakpuasan dari empat daerah kecil yang masih dikuasai oleh turunan keluarga Rangga Yuda atau sisa dari kekuasaan Majapahit yang dulu berkuasa di Badau, kini masih menguasai tiga wilayah lainnya yaitu Buding, Sijuk, dan Belantu. Belantu sendiri diam-diam sudah mengirimkan upeti takluk ke Palembang tidak ke Balok.

sedikit cerita hikayat daerah seperti :

Sekilas Sinopsis Yin Galema

…Kapal terus menyusuri Tanjung itu dan memasuki sisi kanan sebuah delta yang begitu banyak dihuni burung berwarna putih abu-abu kebiruan, kelak kutahu namanya pergam, ia lebih besar dari merpati, dagingnya enak karena makan buah belinjo. Di balik delta itu sebuah teluk terlindungi oleh hutan bakau yang lebat. Itulah Teluk Balok dan kapal kami berlabuh di airnya yang tenang, bening dan tentu saja dalam, tapi rasanya payau karena menampung beberapa sungai yang bermuara di situ.

Setiba di teluk, kami tak segera ke darat karena Ayah agak kesal dan kami
bingung karena orang Melayu Johor yang katanya pernah ke sini menjadi lupa pada salah satu sungai yang menuju pusat kerajaan….dst nya … (ceritanya bisa dibaca di www.begalor.com)

dikutip dari Ki Agus Wahyudi

www.belitungisland.com

Bila Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

Perempuan-perempuan Batam

Pagi tadi saya dapat cerita dari seorang tetangga saya, kalau suami tetangga kami yg sebelah rumahnya pekerjaan nya adalah pelaut yang sering membawa limbah dari negara singapura ke batam. jadi dia akan berangkat berlayar jika ada permintaan pengangkatan limbah dari negara tetangga ini. Mulutku rapat tak berkomentar, hatiku bergejolak… Seminggu yang lalu lewat rumpi ibu-ibu kudengar sebuah berita juga kalau banyak perempuan-perempuan batam yang suaminya bekerja di singapura, bingung dengan kebijaksanaan pengenaan fiskal jika akan berangkat ke singapura. dan sempat ribut akan membuat npwp karena jika ada npwp maka tidak akan dikenakan fiskal. Lumayan jika harus kena fiskal sebesar 500 ribu. Meskipun saat ini dolar tengah naik, raupan gaji yg diterima perempuan-perempuan batam yang bersuamikan laki-laki singapura atau yg suaminya pekerja di singapura. Bisa saja hampir setengah penduduk batam, berisi penduduk yang mempunyai status seperti ini. Rasa nasionalisme saya cukup tergelitik, apa memang sudah tidak ada rasa kebanggaan menjadi penduduk indonesia ? melihat sudah banyak sekali negri ini dijahili bukan oleh orang lain (neg lain) melainkan dari penduduknya sendiri, demi kemapanan ekonomi. Tidak disadari oleh perempuan-perempuan batam  yang doyan ngerumpi ini, pada saat negara membutuhkan dana pembangunan dari pajak rakyatnya, mereka malah memaki-maki kebijaksaan tersebut tidak melindungi rakyat, padahal banyak unsur yg jelas ilegal yg ditimbulkan oleh sebagian perempuan-perempuan batam dengan status mereka tersebut. Wahai perempuan-perempuan batam bagaimana negri ini akan memberi perlindungan kepada engkau…?

lautmu kering pulau mimpiku

ketika kerang kering dan ikan ku gering

dibalik batu menahan dingin

terdepak tergerus dihantam taufan

lautku kering tak ada penghuni

gosongnya jauh tampaklah pulau seberang

tanjungku melabuh jauh

pulau ku terdampar ke negeri seberang

malu nya terjual

budaya nya mahal

demi dolar yang merambat naik

tak perlulah naik speed boat datang kemari.

lautku kering

budaya ku terjual

malupun tak ku kenal

Ketika Ramadhan berakhir

Hari ini,
Bulan Ramadhan
sudah berakhir

Tiba-tiba,
Terbersit tanya di
hati,
‘Sudah sempurnakah ibadahku kali ini?’

Tak
perlu menunggu lama,
Hati kecilku sendiri yang
menjawab
‘Ibadahmu belum sempurna… belum ada
apa-apanya!’

Astaghfirullah,
Sekali
lagi,
Ramadhan terlewati begitu saja
Aku sudah
menyia-nyiakan
Bulan yang penuh berkah ini, Ya
Allah

Tanpa tadarus,
Tanpa tarawih,
Tanpa
dzikir,

Sholat lima waktu yang seadanya,
Sedekah
yang sedikit,
Puasa yang tidak sempurna

Aku jadi
ingat
‘Perjalanan’ku selama sebulan ini
Masih banyak
kekhilafan
Yang tak bisa kutahan

Sesekali masih
kubergunjing,
Sesekali masih kuberbohong,
Sesekali
masih tak bisa kutahan emosi
Sesekali masih kumengeluh,
“Perutku krucuk… krucuk…”
Sesekali masih kumengeluh,
“Tenggorokanku kering”
Sesekali masih kurasa
malas
Sesekali masih kumerutuk dalam hati,
“Duh,
tinggal berapa hari lagi, sih
puasa…?”

Astaghfirullah…

Lupa aku akan
janji
Di awal Ramadhan
Janji untuk
beribadah
Dengan lebih baik

Malu aku
Sudah
bertanya
Tentang kesempurnaan ibadahku

Malu
aku
Menyongsong 1 Syawal

Malu aku
Merasa
berhak
Memperoleh
kemenangan

Lagi-lagi,
Terucap doa di
hati,
“Ya Allah, jangan jadikan ini adalah Ramadhan
terakhir bagiku”
“Ya Allah, ijinkan aku bertemu
Ramadhan lagi”

(Dari temen)

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri

Oleh: A. Mustofa Bisri

Sejak malam
Bahkan beberapa malam yang lalu
Hari sudah tahu kemenangannya
Akan datang

Seperti tak sabar
Semalan langit bergaung-gaung
Melantunkan takbir yang hingar bingar
Allahu Akbar! Walillahil hamdu !
Ramadhan seperti malas pergi
Seperti ada yang masih mengganjal
Belum tuntas diselesaikan
Tapi tak sabar lagi
Semua sudah dipersiapkan
Bagi melepasnya seadanya
Hari ini dan mungkin beberapa hari
Sesudah hari ini
Hari yang bersuka-ria
Adakah kau sedang mensyukuri
Kemenanganmu atas setan dan nafsu
Dibulan puasa, maka o, alangkah gembira
Ataukah karena kini
Kau terbebas lagi seperti semula
Tak ada lagi yang kau sungkani ?
Apakah ini kemenanganmu
Atau lagi-lagi kemenangan
Setan dan nafsu atas dirimu ?
Betapapun Allahu Akbar !
Bagaimanapun, waliLlahil hamdu !
Selamat Idul Fitri, mata
Maafkanlah aku selama ini
Kau hanya kugunakan melihat kilau comberan
Selamat Idul fitri telinga
maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kusumpali rongsokan-rongsokan kata
Selamat Idul fitri, mulut
Maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kujejali dan kuumbat muntahan
Onggokan-onggokan kotoran
Selamat Idul fitri, tangan
Maafkanlah aku; selama ini
Kau hanya kugunakan mecakar-cakar kawan
Dan berebut remah-remah murahan
Selamat Idul Fitri, kaki
Maafkanlah aku; selama ini
Kau hanya kuajak menendang kanan-kiri
Dan berjalan di lorong-lorong kegelapan
Selamat Idul Fitri, akal budi
Maafkanlah aku; selama ini
Kubiarkan kau terpenjara sendiri
Selamat Idul Fitri, diri
Marilah menjadi manusia kembali

Tulisan Sebelumnya »